MALU

Pada suatu sore, Abdu pulang dengan langkah lesu. Teman dekatnya pun tanggap lalu bertanya,

‘Hai Abdu tumben nih lesu amat?”. “Iya nih. Pusing mikirin rumus matematika yang dijelasin Pak Mufi tadi di sekolah. Bingung ntar gimana mo ngerjain PR nya” papar Abdu mengungkapan kegalauannya. “Yee…. knapa tadi nggak nanya di kelas? Kirain sudah paham kok anteng bener pas dijelasin tadi” timpal Ayaz. “Itu anteng gegara puyeng. Ane malu Yaz mau nanya-nanya. Ntar dikira kaga ‘mudengan’. Ogah lah ya” Abdu membela diri. “Ck.. ck.. ck Abdu… gimana mau pinter kalo nanya aja malu. Justru dengan kita bertanya, guru jadi paham bahwa penjelasannya memang belum bisa kita terima dengan baik. Pasti Pa Mufi akan mengulang penjelasannya dengan senang hati kok”. “Lah kan, malu itu bagian dari iman lho. Bagus dong kalo ane pemalu. Hehehe…” Abdu nyengir mencari pembenaran. “Yaa ngga gitu juga kawan. Malu yang baik itu jika pada tempatnya. Bukan dalam perkara menuntut ilmu. Ntar deh kita tanya-tanya ke Ustadz biar jelas”.

Mutiara Hikmah

Sobat Fata, kejadian seperti kisah diatas tentu sering kita jumpai. Terkadang kta merasa malu melakukan sesuatu. Misalnya malu menyampaikan pendapat, malu bertemu seseorang, malu berbuat sesuatu dan semacamnya. Taukah Sobat, bahwa Islam tlah menjelaskan hakikat rasa malu dengan penjelasan yang sangat gamblang. Kapan rasa malu itu menjadi sebuah kebaikan yang berpahala dan kapan rasa malu itu menjadi tercela sehingga wajib dijauhi. Yuk kita simak penjelasannya.

Malu secara syari didefinisikan sebagi berikut:

“Malu adalah sifat yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba sehingga membuatnya menjauhi keburukan dan kehinaan, serta menghasungnya untuk melakukan perbuatan yang bagus” (lihat Fathul Baari karya Ibnu Rajab, 1/102).

Malu pada dasarnya adalah sifat terpuji dan merupakan bagian dari iman, artinya tidak sempurna iman seseorang kecuali ia memiliki sifat malu. Dalam Shahihain Nabi #I bersabda:

الإيمانُ بِضعٌ وستونَ شُعبةً ، والحَياءُ شُعبةٌ منَ الإيمانِ

“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Al Bukhari 9, Muslim 35).

Bahkan Nabi #I pun dikenal sebagai orang yang sangat pemalu. Sahabat Nabi, Imran bin Hushain mengatakan:

كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أشَدَّ حَياءً مِن العَذْراءِ في خِدْرِها

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah orang yang lebih pemalu daripada para gadis perawan dalam pingitannya” (HR. Al Bukhari 6119, Muslim 37).

Malu yang terpuji ini adalah rasa malu yang dapat menghalangi seseorang dari perbuatan tercela dan masiat kepada Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah #I,

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu”

Malu yang terpuji misalnya, kita malu mencuri karena menyadari pengawasan Allah, kita malu menampakan aurat, malu mendzolimi sesama makhluq Allah dan lain sebagainya.

Namun demikian walaupun sifat malu itu pada dasarnya terpuji, ternyata malu bisa menjadi tercela lho! Diantaranya adalah jika rasa malu itu kemudian menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan ilmu agama atau melakukan sesuatu yang benar. Seperti kisah Abdu tadi contohnya.

 Imam Mujahid rahimahullah berkata,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.

Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.(lihat al-Jâmi’ bayânil ‘Ilmi wa Fadhlihi I/534-535, no. 879).

Selain itu, bentuk malu yang tercela lainnya adalah jika rasa malu itu dapat menyebabkan tersia-siakannya hak Allah dan orang lain. Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullâh dan yang lainnya mengatakan,

“Malu yang menyebabkan menyia-nyiakan hak bukanlah malu yang disyari’atkan, bahkan itu ketidakmampuan dan kelemahan. Adapun ia dimutlakkan dengan sebutan malu karena menyerupai malu yang disyari’atkan.”

Dengan demikian, malu yang menyebabkan pelakunya menyia-nyiakan hak Allah Azza wa Jalla sehingga ia beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agamanya, menyia-nyiakan hak-hak dirinya sendiri, hak-hak orang yang menjadi tanggungannya, dan hak-hak kaum muslimin, adalah tercela karena pada hakikatnya ia adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. Misalnya malu beribadah yang benar, malu bekerja, malu membayar hutang dan semisalnya.

Nah Sobat, sedikit penjelasan ini semoga dapat memberi pencerahan pada kita semua tentang bagaimana kita harus menempatkan rasa malu yang benar sehingga sifat malu yang kita tampakkan menjadi sifat terpuji yang merupakan bagian dari iman. Seorang muslim hendaknya memiliki sifat ini, sehingga ia terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela dan dosa. Namun jangan sampai sifat malu menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu, melakukan yang haq serta menjauhi kesalahan dan dosa. wabillahi at taufiq wa sadaad.

(Penulis: Ummu Raihan)

Artikel ini juga dimuat di Majalah Elfata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *